Selasa, 12 Desember 2017

TAK ADA MAWAR KEMBANG GEMPOLPUN JADI



Tanaman hias umumnya adalah aneka jenis bunga yang diperuntukkan sebagai bunga potong, bunga hias, asesoris, dan lain sebagainya.

Biasanya bunga hias dipake untuk mempercantik ruangan baik dirumah tinggal, dirumah makan, penginapan, perkantoran, dan lain sebagainya. Bahkan diacara acara sering dijumpai aneka bunga hias dan terlebih acara pernikahan. Tanaman yang sering dijumpai sebagai bunga hias diantaranya adalah mawar, anggrek, sedap malam, aneka jenis krisan, dan masih banyak yang lain. Tentunya harga yang dipatok juga tidak murah apabila kita ingin membelinya.

Ada alternatif untuk mempercantik ruangan rumah kita tanpa mengurangi anggaran belanja yaitu dengan menggunakan bunga hias yang ada disekitar kita. Bunga lavender misalnya disamping cantik bunga ini juga bisa mengusir nyamuk.

Bunga yang bisa djadikan alternatif lain adalah bunga dari pohon yang satu ini.





Bunga yang dihasilkan dari pohon gempol ini bentuknya seperti buah rambutan. Ia akan berbunga saat musim hujan dengan aroma wangi yang semerbak. Pada zaman dahulu pohon ini dimanfaatkan oleh suku aborigin di queensland australia untuk mengobati sakit perut, gigitan hewan, luka luar dan gigitan ular. Di timika papua pohon ini dipakai sebagai bahan bangunan dan pembuatan perahu, orang orangpun menyebutnya pohon perahu. Pohon ini bisa menyerap logam berat dalam jumlah besar dan menyimpannya diakar sehingga cocok untuk pembersihan tanah tanah yang terkontaminasi logam berat.

Nah disamping manfaatnya itu bentuk bunganya juga indah bukan? sehingga bisa dijadikan alternatif bunga hias yang mempercantik ruangan kita tanpa mengurangi uang belanja kita karena gratis mengambil dari alam.

THOBIBY QOLBY

Sering terjadi pada perempuan, saat tamu rutin bulanan datang mood tidak jelas dan suka uring uringan. Tiba tiba nangis, gampang baper dan melow terus bawaannya. Emosi meluap luap ingin bicara tentang semua analisa fikiran sendiri yang
terkadang malah bisa berpotensi menjadi prasangka bila dimaknai oleh orang lain.

Apalagi apabila terjadi permasalahan beruntun seperti yang sedang aku alami beberapa tahun terakhir ini. Bila hari hari biasa aku bisa nangis sesenggukan saat aku membaca ayat ayat NYA padahal bukan karena aku faham artinya. Kalau biasanya dalam sujud aku bisa tersedu sedu mengadu kepada NYA akan kesedihanku. Tapi ketika hari libur khusus bagi wanita itu tiba, seakan tak ada cara menahan gejolak hati, alhasil aku jadi sering melakukan kesalahan dengan menumpahkan unek unek dan keluh kesah. Walaupun keluh kesah atau biasa disebut curhat itu cuma pada orang yang begitu kita percaya, tapi sebetulnya itu tidak perlu atau cenderung tak ada gunanya bahkan malah bisa jadi bumerang disuatu kala. Maka Allah-lah yang menjadi tempat bagi kita yang paling tepat untuk berkeluh kesah. Karena hanya DIA yang paling tau dan mengerti kita melebihi diri kita sendiri yang tidak akan ada sesal dikemudian hari.

Pada diri seseorang akhirnya aku begitu banyak bicara. kehadirannya membangkitkan semuanya. Semangatku, harapanku, tekadku, hasratku, kekuatanku. Entah kata apa lagi yang tepat untuk menggambarkan betapa berartinya Allah menghadirkan kembali dia sebagai oase untukku. Tapi dia juga adalah cobaan baru dengan warna yang berbeda. Tak ada yang boleh menempati posisi tertinggi dilubuk hati terdalam melebihi Allah, tak seharusnya aku memikirkannya melebihi ingatanku pada Allah. Bila gelap mampu menghilangkan bayangan, tapi tak pernah mampu menghilangkan dia dari fikiran.




Waktu terasa lambat berjalan ketika tak ada kabar darinya, tak mudah aku melaluinya tapi aku belajar untuk meredakan gejolak rasaku. Aku ingin sekali meminta dirinya pada Allah tapi aku begitu takut jika Allah punya kehendak yang lain. Bukankah apa yang kita anggap baik belum tentu baik menurut Allah, bukankah apa yang sangat kita sukai belum tentu itu bagus buat kita menurut Allah? aku terus meminta petunjuk agar apapun langkahku dan keputusanku nanti adalah benar menurut Allah meskipunpun salah dalam pandangan manusia, termasuk jika aku memutuskan untuk sendiri seumur hidup bila ternyata dia satu satunya cinta mungkin menjadi sebuah keniscayaan untuk bersama. Yang terjadi adalah takdir telah mempertemukanku kembali dengannya setelah puluhan tahun berpisah dengan takdir masing masing, termasuk rasa cinta inikah? Aku nasehati diriku sendiri, teruslah mencintai dengan ketulusan dan hasilnya biar Allah yang mengaturnya. Meskipun  jika endingnya tidak indah pada waktunya, aku percaya barangkali mungkin dengan sendiri aku lebih mencintai Allah dan lebih dekat dengan NYA. Bukankah cinta yang tulus itu tidak berharap sesuatu, belajar seperti matahari saja. Cintai dia dengan tulus maka tidak menimbulkan kekecewaan, karena kita tidak berharap apa apa. Insyaallah aku pernah  mencintai dirinya seperti itu. Ya, tulus saja meskipun seringkali hadirnya sepi dan rindu itu menyiksa jiwa.

Seringkali diujung pagi yang begitu hening dan sunyi aku ingin berlari ketempatnya, aku tau dijam itu dia masih terjaga dengan aktifitasnya. Aku ingin membantunya dan menemaninya melewati jam jam sibuk agar bisa merasakan berada dalam posisinya. Bukankah aku yang lebih punya waktu luang, bukankah aku tak selelah dia dalam pekerjaan? Aku belajar lagi tentang kesabaran, mencintainya adalah ingin membuatnya bahagia bukan melibatnya pada masalah. Kepedihanku, keadaanku yang tengah terpuruk dalam masa sulit ini biarlah aku menyelesaikan semua sendiri , ada Allah bersamaku yang menemani ditiap jengkal langkah ini, ada cinta yang besar untuk dia yang tak pernah padam oleh waktu dan keadaan. Cinta yang terkadang membuatku merasa hidup meskipun sering menguras air mata yang tiba tiba jatuh tanpa terasa karena haru biru rasa rindu yang tertahan. Aku memang sendiri tanpa ada kerabat, tak ada saudara, tapi ada Allah. Keadaan sulit ini akan berlalu walau aku tak tau sampai kapan itu.

Ingat pada satu kalimat bahwa tak ada yang akan menolong kecuali diri kita sendiri, jadi seberat apapun perjuangan ini dalam hidup dan dalam menanggung beban cinta dihati karena keadaan tak menyatukan kita dengan orang yang begitu kita cintai, tetaplah kita harus teguh pada kebaikan. Karena kekuatan dan kelemahan itu tak ada jarak, kita yang harus membuat sekat diantara keduanya agar kelemahan itu menjauh. Jadi aku harus mampu menempatkan Allah diatas cintaku, aku harus mampu meredam gejolak itu. La haula wala quwwata illa billah, meskipun kadang aku bertanya tanya sendiri jika dia adalah pilihan Allah untukku kenapa sampai hari ini dia tidak segera datang untuk menghalalkan? karena masa perpisahan itu sudah pernah kami lalui dan rasakan diwaktu yang tidak sebentar. Kenapa dia tidak menjemputku disini yang terus menanti, menjawab panggilan cinta bila rasa itu memang ada diantara kami..?

Episode kedua
Renungan sunyi menunggu pagi dihari hari akhir 2017.



"Ketika cinta memanggil"

Ada tiada rasa dalam cinta
rindu akan memanggil Mu
karena setiap jiwa tlah bersumpah setia hanyalah kepada Mu 
Bila cinta ada di dalam jiwa
wangi bunga dunia tanpa nestapa
segala yang dirasa hanyalah dia
hati kan memuja hanya padanya
ketika cinta memanggil gemetar tubuhku
Ketika cinta memanggil hangatnya nafasku
Ketika cinta memanggil menderu sang rindu
Ketika cinta memanggil...
Rindu..rindu..rindu
kalbu memanggil manggil namamu
Seperti terbang dilangit Mu
Tenggelam dilautan cinta Mu

Sabtu, 09 Desember 2017

MENYUSUN RENCANA MASA DEPAN


Masa depan adalah esok hari, pasti banyak hal yang ingin kita kerjakan maupun dapatkan. Untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, tentunya kita harus mengerjakan sesuatu  dulu karena tidak mungkin kita mendapatkan apapun yang kita mau tanpa usaha terlebih dahulu. Ada langkah sederhana untuk perencanaan masa depan yang bisa dimulai dengan :

1. Penentuan target

Target adalah tujuan, bisa disebut dengan cita cita. Apa cita cita kita, alasan kita mempunyai target tersebut, apa yang akan dicapai saat cita cita kita terwujud dimasa mendatang? Dari pertanyaan tersebut jawabannya akan membantu menentukan target itu merupakan target jangka pendek, target jangka menengah, atau target jangka panjang. Contohnya target jangka pendek kita menginginkan bisa membeli laptop atau handphone terbaru, target jangka menengah kita menginginkan bisa jalan jalan ke luar pulau, dan target jangka panjang ingin menikah diusia tertentu.

2. Penentuan biaya untuk memenuhinya

Setelah tau apa target yang ingin kita wujudkan, maka kita harus menentukan berapa besarnya biaya yang dibutuhkan. Setelah tau biayanya maka kita harus mulai memikirkan cara untuk menabung atau mendapatkan dana yang cukup untuk memenuhi target tersebut.
Dengan mengetahui besarnya biaya untuk memenuhi target, maka secara tidak langsung kita akan bersemangat dan memiliki tekad yang kuat untuk giat berusaha agar memperoleh dana yang cukup sebagai biaya memenuhi target masa depan.

3. Mencatat rencana

Mencatat rencana adalah membuat perencanaan apa langkah yang akan kita lakukan untuk mendapatkan dana, misalnya dengan cara mencari pekerjaan sampingan atau membuka usaha baru agar mendapatkan dana yang lebih untuk simpanan atau tabungan yang bisa membuat target kita terlaksana sesuai dengan waktu yang diperlukan atau bahkan lebih cepat.

4. Pengendalian diri

Dalam pelaksanannya, untuk mewujudkan target masa depan tentu bukan hal mudah namun tidaklah sulit asal kita punya tekad yang kuat dan disiplin. Akan banyak halangan yang kita temui nanti. Misalnya target jangka pendek adalah kita ingin punya laptop, maka disaat yang sama ketika mendekati target tiba tiba kita didatangi teman yang menawarkan baju branded maka kita harus bisa menolak untuk beli

Minggu, 03 Desember 2017

HASRAT


Ini adalah hasrat bukan nafsu..? Hasrat untuk hijrah dijalan cinta menggapai ridha-Nya, bersama sama menuju jalan syurga. Hasrat ini seperti sebuah keyakinanku bahwa bersamanya aku bisa melewati semuanya.

Dalam hening aku merenugkannya, tetes demi tetes air mata jatuh disudut harap. Kupeluk hasrat ini erat, entah perasaan apa ini aku tak mampu mengartikannya, aku tak mampu memalingkannya. Aku hanya mampu mencurahkannya lewat air mata yang seringkali jatuh tiba tiba kala aku berjalan menyusuri waktu dengan penantian yang terpendam itu, kala aku terjaga dari tidurku, kala dalam sujudku ditiap panggilan-Nya. Aku berharap hasratku mendapat ridha-Nya sehingga aku dan dia bisa bersatu endingnya.

Hasrat ini begitu kuat, hasrat untuk bisa menua bersama menghabiskan sisa usiaku yang tak lagi muda. Aku tau dengan jelas bahwa hasrat ini tidak mudah tapi keyakinanku kukuh untuk melangkah bersamanya, bismillah.

Mengatakan semuanya tidak mengubah keadaan walaupun sedikit mengurangi beban jiwa. Apa dan siapalah aku tanpa ikatan..? Hasrat untuk berharap disapa lewat udara disela sela waktu sibuknya saja aku tidak berani. Memberanikan diri menyapanya dengan sejuta rasa, lagi lagi entah rasa apa itu ketika bulir bulir air mata jatuh, ada rasa bahagia membaca balasan pesan itu, pesan biasa tapi bagiku berita darinya begitu berharga. Melihatnya online seakan aku sedang memandangnya dengan penuh hasrat. Hasrat ingin menyapa, hasrat ingin berjumpa, hasrat ingin berbagi kisah lewat dunia maya.

Jika ada rasa sesal karena mengatakan ungkapan ungkapan rasaku, itu karena aku takut hasratku salah. Aku takut harapku sia sia dan dia tidak menyambutnya. Hasrat itu membuatku ingin bisa berharga dimatanya walaupun aku hanyalah wanita sederhana.

Jika hasrat ini bertepuk sebelah tangan maka aku bersama hasratku menjauh dan harap yang tertanam lekat bersama air mata kesedihan pasti kuabaikan. Apalah artinya hasrat bila dia tidak menyambutnya. Apalah artinya hasrat tanpa ikatan suci dihadapan illahi. Hasrat itu adalah Bersama dalam pernikahan atau melupakan dalam penantian. Hasrat itu sebenarnya adalah dihalalin olehnya.

Berjalan bersama hasrat itu dengan menyimpannya erat, banyak tantangan yang melumpuhkan kesabaran itu. Penantian ini syahdu ketika aku menempatkannya pada ujian, bahwa Allah menguji rasaku agar tumpuan hasrat itu bermuara kepadaNya. Jika aku sudah berusaha dan tetap teguh dijalanNya hasilnya aku pasrahkan saja. Allah akan mempertemukan hasrat ini pada dia yang dikehendakiNya, aku yakin itu.


Selasa, 28 November 2017

MAKANAN UNIK "TUMIS GENJER"


Genjer adalah tanaman liar yang biasanya tumbuh diareal persawahan, bentuknya yang menyerupai enceng gondok sering dianggap sebagai gulma apabila tidak ditangani dengan baik. Pemanfaatan genjer sebagai alternatif makanan pendamping lauk membuat keberadaannya dicari masyarakat terutama penduduk yang tinggal dilingkungan persawahan.

Salah satu masakan khas kali ini adalah tumis genjer, terutama bagi masyarakat jawa barat menu satu ini sudah tidak asing bahkan favorit bagi sebagian masyarakat menengah ke bawah. Biasanya bagian yang dimasak adalah bagian batang bunga yang masih muda, karena jika batang yang sudah tua teksturnya kasar dan berserat susah untuk dicerna. Rasanya yang khas enak dinikmati dengan nasi pulen yang hangat dipadukan dengan aneka ikan asin. Yummy deh apalagi bila cuaca hujan begini.
Cara bikin tumis genjerpun cukup mudah, bagi yang belum pernah ayo mencoba langkah langkah berikut :


  • Siapkah satu ikat genjer lalu cucipotong potong/petik seperti kangkung dan cuci bersih
  • Genjer yang sudah bersih direbus sebentar biar lunak (bisa juga langsung dimasak tanpa direbus) 
  • Tiriskan genjer. Siapkan bawang,cabe dan bumbu untuk menumis sesuai selera. Juga bisa ditambahi terasi apabila suka.
  • Tumis bumbu lalu masukkan genjer sambil diaduk agar tercampur dengan bumbu. (Bumbu bisa diulek atau dirajang).
  • Genjer siap disajikan.

Kamis, 23 Februari 2017

TENTANG CINTA

Ada pepatah mengatakan "cinta itu buta". Walaupun cuma satu kalimat peribahasa yang sederhana, tapi pembahasan dan perbincangan tak pernah habis karenanya. Karena cinta itu buta maka seperti apapun kondisi yang dicinta, maka tak akan menjadikannya masalah. Karena cinta itu buta maka seberat apapun jalannya maka akan dilalui untuknya. Entah itu terbentur restu dan dukungan, terkendala status sang tercinta, terhalang perbedaan dan budaya atau status sosial dan lain sebagainya.




Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya mengatakan cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut.



Cinta tak memandang jauh ataupun dekat, cinta tak terbatas oleh ruang maupun waktu, cinta mampu melewati berbagai macam badai, juga mampu menembus batas samudera dan benua. Cinta tetaplah cinta walaupun cinta tidak tinggal di atap yang sama. 



Cinta merupakan perasaan suka terhadap sesuatu, entah itu objek nyata maupun abstrak. Kehadiran cinta akan membuat 'rasa' yang ditimbulkan menjadi berbeda, indah, syahdu, sekaligus duka. Duka apabila cinta tidak bisa bertemu cinta dan cinta yang dirasa bertepuk sebelah tangan atau tidak terungkapkan (dalam hati saja). Syahdu bila dalam cinta terpaut rindu, indah bila cinta bisa bertemu dalam satu memori yang menyatukan kerinduan itu.

Cinta seringkali menjadi alasan penyatuan hubungan sekaligus pemutusan suatu hubungan. Hubungan yang begitu baik dan lekat akan menjadi retak akibat konflik yang timbul karena cinta, tapi tak sedikit hubungan terjalin akibat reaksi dari cinta. Seringkali cinta menjadi alasan dari begitu banyak reaksi buruk yang terjadi di dunia ini. Penghianatan misalnya, karena memang sudah kodrat manusia tak bisa lepas dari nafsu dan emosi. Tapi jika fitrah cinta itu terjaga maka cinta yang besar akan lebih agung berdiri diatas nafsu dan mengalahkan nafsu itu sendiri. Dan jikalau cinta tidak bisa bertemu disatu titik kebahagiaan, maka ada balasan hakiki diakhir tujuan manusia nanti yaitu syurga yang hakiki. Cinta yang lebih besar dari nafsu akan bertumpu pada pemilik cinta itu sendiri, sang maha cinta yaitu Allah SWT. 




Budayawan soejiwo tedjo pernah berkata bahwa 'mencintai adalah takdir' karena kita tidak bisa merencanakan akan mencintai siapa dalam hidup kita. Beda dengan menikah, ia berkata bahwa 'menikah itu nasib' karena kita bisa menyetting sendiri mau menikah dengan siapa atau bahkan tidak menikah seumur hidup kita. 

Cinta sesungguhnya bertumpu pada Allah sang maha cinta. Kukuhkan cinta pada Nya sehingga cinta pada yang lain akan tergenggam ditangan dan tidak menguasai logika.

Sabtu, 11 Februari 2017

NYATAKAN CITA


Setiap manusia pasti memiliki cita cita, sudah kodrat manusia memiliki hasrat dan ambisi. Jika ditarik sisi positifnya justru dengan adanya ambisi maka seseorang akan berupaya dengan maksimal, sekuat tenaga untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

Cita cita seseorang akan mengalami pergeseran dan perubahan seiring waktu. Saat anak anak misalnya, cita cita yang sering diangan angankan seorang anak sifatnya cenderung umum, misalnya pengen jadi dokter, polisi atau guru (cita cita yang paling banyak peminatnya/pasaran).

Pengalaman saya pribadi saat masih duduk dibangku sekolah dasar adalah saya ingin menjadi guru, tetapi saat menginjak remaja cita cita saya lebih maskulin, masa iya saya yang cewek ini pengen buka usaha bengkel. Itu mungkin karena profesi orang tua saya waktu itu adalah tukang servis kendaraan roda dua diikuti kakak saya juga, saya sendiri sering membantu nerima jasa pompa sepeda atau motor jadi mungkin karena itu saya berangan angan mengembangkan usaha keluarga saya.

Tetapi setelah saya batal masuk sekolah menengah kejuruan bidang studi otomotif, maka cita cita saya itupun ikut menguap terbawa angin. Bahkan saya cenderung tidak lagi memikirkan cita cita. Saya seolah olah tidak punya cita cita. Entahlah, karena saat kita beranjak dewasa maka banyak permasalahan dan beban hidup yang kita alami. Untuk bisa melanjutkan sekolah saja, harga yang harus dibayar tidak murah waktu itu. Ibarat kata, orang tua kita rela miskin demi sekolah anak anaknya.

Fokus utama saya waktu itu adalah sekolah untuk menuntut ilmu, setelah itu saya bisa bekerja apa saja untuk membantu perekonomian keluarga. Pilihan saya jatuh ke sekolah menengah kejuruan bidang studi manajemen bisnis di Kabupaten tempat kelahiran saya, dan itu adalah sekolah kejuruan negeri satu Satunya di kota saya. Yah bisa dibilang favorit gitu, ketemu dengan orang orang kota, anak anak orang kaya tentunya.

Tidak bisa dibayangkan bagaimana pergaulan saya yang ndeso ini, minder dan menarik diri sampai saya duduk dibangku kelas tiga. Di tahun terakhir saya sekolah, saya mulai banyak teman yang pastinya anak anak orang kaya.

Akhirnya setelah lulus dan punya pengalaman kerja cita cita saya cenderung ke usaha pribadi yang sifatnya tidak mengikat, saya tidak begitu suka aturan walaupun saya itu sangat bertanggung jawab pada pekerjaan saya. Saat ini profesi saya ternyata sesuai cita cita yang pernah saya ucapkan saat kecil yaitu menjadi seorang guru. Saya sangat jarang terlambat apalagi bolos kerja, seperti apapun kondisinya. Misalnya ketika saya atau anak saya sakit, sebisa mungkin saya tetap masuk kerja. Saya itu bisa dibilang workaholik atau gila kerja. Tapi karena kodrat saya sebagai wanita, keluarga tetaplah prioritas utama, saya bisa mengatasi jiwa pekerja saya yang begitu tinggi dan tetap mengutamakan suami dan anak anak.

Sbr gbr:google

Memiliki pekerjaan tidak membuat saya merasa telah menemukan impian saya. Cita cita saya sama sekali belum saya raih. Saya sangat ingin mengembangkan usaha dari hobi saya gemar menanam bunga. Saya ingin memiliki Green House dan berjualan bunga/tanaman hias, sekaligus Membuka kedai makanan dan minuman. Konsepnya seperti taman yang mini, menjual tanaman hias khususnya, sekaligus tempat nongkrong yang menyediakan aneka juice buah segar, aneka kopi, dan lain lain juga makanan ringan yang akrab dilidah. Sayangnya sampai detik ini impian itu belum terlaksana karena terbentur biaya, mungkin juga karena Tuhan belum berkehendak atau usaha saya masih kurang maksimal, hehehe. Mohon do'a dari anda pembaca, semoga impian saya bisa segera terwujud. Aamiin ya robbal alamiin.
sbr gbr:google


Rabu, 25 Januari 2017

LAMONGAN DAN BEKASI


Delapan tahun sudah saya menjadi penduduk kota Bekasi, tepatnya saya tinggal di kota industri, Cikarang. Saya yang asli dari sebuah desa kecil di kecamatan Babat kota Lamongan, harus mengikuti suami tinggal dikampung halaman suami.

Tinggal di perumahan yang majemuk membuat saya belajar banyak hal, menilai dan merasakan berbagai karakter dan kebiasaan orang yang berbeda beda. Bahwa dengan perbedaan karakter penduduk, perbedaan adat, bahasa dan Intonasi pun menjadi ladang bagi timbulnya perselisihan dan pertikaian.
Saya yang orang jawa ini terkadang harus menutup diri dari pergaulan karena menghindari munculnya permasalahan. Kalau saya menyebutnya, mencari aman. Kenapa saya seperti itu? Karena pengalaman pribadi yang mengajarkan pada saya, bahwa dalam rumpun masyarakat yang majemuk, salah bicara sedikit saja sudah menimbulkan fitnah dan penafsiran yang beragam dan berujung pada perselisihan yang merugikan diri kita sendiri akhirnya. Jika saya berselisih dengan tetangga, pastinya kehidupan saya menjadi tidak nyaman.


Berbaur dengan masyarakat Bekasi, saya merasakan hal yang sangat berbeda. Dimana menurut saya dalam kehidupan mereka, yang menjadi prioritas masyarakat adalah "happy". Contoh kecil adalah dalam hal konsumsi, entah itu makanan sehari hari maupun jajan. Dibekasi saya melihat orang akan membeli apapun yang mereka ingin dan senangi, kalau pengen beli bakso ya beli, sate, martabak dan es campur, atau segala macam macamnya. Mereka tidak akan berfikir dua kali untuk membelinya. Walaupun uang yang mereka miliki terbatas jumlahnya,yang penting saat itu cukup buat beli. Hal tersebut berlaku dalam hal berbusana, istilah "kekinian" begitu familiar dalam masyarakat. Bukan untuk yang punya materi saja yang mengikuti trend atau kekinian, tapi semua masyarakat tanpa terkecuali. Walaupun hanya bisa beli kw, yang penting show on and happy. Jadi jangan heran jika pedagang jenis dagangan apapun akan laku dengan laris manis di sana, karena karakter masyarakat terbilang konsumtif dan hal tersebut sangat menguntungkan pedagang.

Lain halnya dengan orang Lamongan. Berkaca pada diri saya sendiri misalnya, bahwa jika saya pegang uangpun, tidak serta merta akan saya belikan sesuatu yang saya inginkan jika nilai guna dari apa yang saya beli tidak seberapa. Misalnya makanan atau jajanan, bagi saya jika saya ingin beli bakso tapi saya sudah memasak rendang pada hari itu, maka saya akan menunda bahkan tidak menghiraukan keinginan saya itu. Lha kalau beli bakso maka rendang saya siapa yang makan? Pasti tidak habis, begitu difikiran saya. Apalagi bila pengen beli baju, saya berfikir manfaatnya apa jika saya sudah memiliki banyak baju yang masih bagus. Jadi kesannya itu pelit ya,hehehe. Kadang saya mengamati dan introspeksi diri, apa hal tersebut saya alami sendiri ataukah orang lainpun sama begitu? Tentunya orang Lamongan yang saya maksud, dan umumnya orang jawa timur. 

Untungnya saya punya tetangga majemuk jadi saya bisa belajar tentang perbandingan diri saya khususnya sebagai orang jawa timur. Tetapi yang dari jawa tengahpun saya lihat tidak jauh berbeda seperti saya. Bersikap "pelit" ternyata punya sisi positif bagi masa depan, karena uang dikantong pastinya aman maka rekening menjadi gendut maka rumah akan kebeli dengan cepat dan lain lain. Meskipun kesannya agak menderita ya, hehehehe. Maaf saya bilang begitu karena kalau dalam istilah saya "ngempet" artinya nahan, Nahan keinginan pengen ini itu.
Yang saya suka dari masyarakat di bekasi ini adalah selalu happy. Rata rata yang saya lihat dari mereka masyarakat menengah ke bawah tidak akan pusing dengan keadaan rumah sederhana mereka, Jadi seolah olah rumah yang bagus bukanlah ukuran atau tujuan utama,dan orang juga tidak akan dihormati karena memiliki rumah besar dan mewah. Yang penting happy. Kesan yang saya dapatkan adalah santai, rileks, bahagia.

Beda halnya di Lamongan orang orang akan sibuk bekerja banting tulang sampai menjadi tki bertahun tahun demi sebuah "pengakuan", Bahwa rumah yang bagus atau mewah adalah ukuran kesuksesan dan keberhasilan seseorang. Seolah olah tolak ukur kaya atau tidaknya seseorang itu dilihat dari rumah mereka, bahkan jor joran (bersaing saling mendahului) kalau dalam urusan rumah. Tujuan utama pokoknya punya rumah yang bagus, lebih bagus dari tetangga atau minim tidak kalah sama tetangga. Pokoknya Rela hutang deh demi punya rumah yang dianggap ideal.

Terlepas dari benar atau tidaknya tulisan saya, saya berharap tidak ada pihak yang merasa tersinggung, semua orang punya persepsi masing masing dan berbeda beda. Semua hal bisa kita lihat dari banyak sisi yang berbeda, masing masing pasti punya sisi kelebihan dan kekurangan. Semoga pembaca bisa mengambil hal yang positif dari tulisan saya.

Bagi saya pribadi memang rumah itu sangat penting, tapi tidak usah kita memaksakan diri untuk memiliki rumah yang bagus dan mewah. Karena rumah adalah istana kita, yang terpenting adalah nyaman dan bersih. Sebagus apapun rumah menjadi tidak ada gunanya jika itu bukan milik kita atau jika kita tidak bahagia.

Rabu, 18 Januari 2017

ARTI SAHABAT


Tak bisa dijelaskan perasaan diantara kami. Bukan saudara tapi seakan ada sebuah ikatan. Tapi kami juga kadang cek cok dan tidak satu suara dalam beberapa hal.
Ia adalah seorang kawan sekolah, yang waktu masih duduk di bangku sekolah masing masing dari kami tidak begitu akrab. Dia punya teman dekat begitu juga denganku.
Ketika lulus sekolah menengah atas, ada satu peristiwa yang menuntun langkahku untuk berkunjung ke rumahnya.

Akhirnya hubungan pertemanan kami berproses dan terprogres. Apalagi semua peristiwa yang melanda hidup kami berdua. Mulai dari kisah karir yang hampir sama, kisah asmara yang jauh berbeda, hingga masalah  individu. Rasanya tak ada hal yang tidak kami lewati tanpa melibatkan masing masing.


Dalam perjalanan waktu aku harus meninggalkan kota kecil kami, aku stay di ibukota. Jauh dari teman semasa kanak kanak juga teman sekolah. Karirku lumayan bagus dan meningkat dari waktu ke waktu. Setiap tahun aku pulang kampung dan sebisa mungkin aku sempatkan mengunjungi temanku itu.

Delapan tahun berlalu dengan jarak diantara kami, tapi hubungan pertemanan itu tidak sedikitpun berubah. Dia hampir tidak pernah mengunjungiku, Aku lah yang berkunjung ke rumahnya. Tapi tidak masalah bagiku.
Suatu tahun aku mengalami masalah yang agak pelik, dia pun sama. Rumah tangganya diujung tanduk, ketika suaminya memilih berpaling. Aku sendiri ditimpa dilema antara suami dan orangtua. Singkat kata orang tuaku membutuhkan aku, tapi itu artinya aku harus meninggalkan suami demi orangtuaku. Alhamdulillah suamiku mengerti, aku diberi kesempatan untuk mendampingi orang tuaku.

Aku kembali ke kampung halamanku, memindahkan sekolah anakku. Aku pasrah pada Tuhan, aku hanya berharap pengorbanan aku dan suami tidak akan sia sia nanti. Dengan kepulanganku kembali ke kampung halaman, kembali hubunganku dengan temanku begitu dekat. Apalagi disaat masalah kembali menerpaku, aku positif harus menjalani operasi pengangkatan polip di usus besar. Tak ada yang bisa aku andalkan untuk mendampingi, apalagi aku ini karakter orang yang tidak mau menyusahkan orang lain dan selalu ingin mengatasi semua masalah sendiri. Ya bisa dibilang cenderung tertutup, tetapi memang dari awal sahabatkulah yang memberi motivasi dan menawarkan dirinya untuk kesembuhanku.

Alhamdulillah akhirnya semua yang disarankan sahabatku itu aku ikuti sehingga aku bisa sehat kembali dalam waktu yang tidak begitu lama. Bayangkan ibuku harus merawat bapak dirumah yang kondisinya sudah sangat lemah, usianya 90 tahun. 2 anakku juga masih kecil, satu duduk dibangku kelas lima sekolah dasar dan yang kedua baru duduk di taman kakak kanak. Aku sendiri adalah anak bungsu dari 5 bersaudara, tetapi ke empat kakakku sudah dipanggil oleh yang maha kuasa. Kalaupun banyak kerabat tapi memang aku ini agak tertutup, jadi sebesar apapun masalah yang aku alamipun tidak akan banyak yang tau kecuali setelah masalah itu beres, hehehehe.

Sahabat adalah teman hidup yang dikirimkan Tuhan sebagai anugerah. Ia tidak akan menghitung untung rugi saat bersama kita. Ia selalu ada walau kehadirannya tidak kita minta.
Trimakasih sahabatku "surya noviyanti muslimah" semoga kita menjadi sahabat dunia akhirat, aamiin...



Rabu, 04 Januari 2017

LIVE STORY


Cinta datang dalam wujud yang berbeda beda. Seperti ceritaku dan suamiku....

Aku dan suamiku bertemu di saat kami menjadi mahasiswa disalah satu universitas daerah di jawa timur.

Cinta yg mengikat kami tidak butuh waktu yang lama untuk saling mengenal atau saling mengerti satu sama lain. Aku melihatnya sebagai sosok yang santun dan sangat sopan. Walaupun dia bukan tipe yang serius, tapi dia berani menerima tantangan orang tuaku untuk meresmikan hubungan dalam ikatan pernikahan.

4 bulan menjalani masa pacaran tidaklah menjadikan keraguan kami melebihi niat kami untuk serius. Singkat kata kami menikah disaat usia kami baru 22 tahun,saat masih aktif sebagai mahasiswa semester 5.

Bisa dikatakan modal kami dalam berumah tangga adalah modal dengkul, karena waktu itu suamiku hanyalah guru honorer di salah satu sekolah dasar negeri dikampung kerabat kami. Aku adalah tipikal wanita yang sederhana dalam segala hal, sedangkan suamiku tipikal lelaki borjuis dan perfeksionis.

Aku yang peka ingin pengertian dalam segala hal,  dan suami yang komunikatif ingin apapun diomongin. Istilah aku pribadi yang dalam bahasa jawa aku menyebutnya 'rumongso' sedangkan suami yang cuek menunggu instruksi atau omongan agar ia tau apa yang harus dikerjakan.

Mungkin banyak pasangan mengalami yang namanya perbedaan, tetapi perbedaan aku dan suami itu ibaratnya adalah kebalikan, kadang aku yang ngalah agar berdamai, tapi tak jarang dia yang mengibarkan bendera perdamaian. Satu hal yang selalu aku rindukan adalah dia selalu bisa membuat aku tertawa, jadi bagaimana mungkin aku bisa marah walaupun aku pemarah jika dia adalah alasanku tertawa...?

Sifatku yang serius dan pemikir satu atap dengan lelaki yang selalu menganggap apapun sebagai lelucon. Dia menganggap aku sebagai wanita pemarah, sedangkan aku merasa kalau aku punya alasan untuk marah. Aku yang penuh perhatian harus menghadapi lelaki cuek,  seperti tidak punya hati sebagai sumiku. Selera dan prinsip kami berdua pun tidak pernah satu, selalu berbeda.

Kadang kami sama sama jenuh dengan perbedaan itu, tapi entah mengapa kami bisa tetap bersama hingga saat ini.
11 tahun pernikahan dengan banyak percekcokan, pertengkaran, perselisihan, perdebatan, dan macam macamnya.
Satu hal yang selalu kami miliki, yaitu ndableg. Setelah berdebat sengitpun kami bersikap 'ya sudahlah' ... Kita suami istri...

Kami tidak pandai dalam mendeskripsikan makna CINTA. Tapi kami belajar untuk mencintai dan dicintai dalam setia dan ikatan sah.