Rabu, 25 Januari 2017
LAMONGAN DAN BEKASI
Delapan tahun sudah saya menjadi penduduk kota Bekasi, tepatnya saya tinggal di kota industri, Cikarang. Saya yang asli dari sebuah desa kecil di kecamatan Babat kota Lamongan, harus mengikuti suami tinggal dikampung halaman suami.
Tinggal di perumahan yang majemuk membuat saya belajar banyak hal, menilai dan merasakan berbagai karakter dan kebiasaan orang yang berbeda beda. Bahwa dengan perbedaan karakter penduduk, perbedaan adat, bahasa dan Intonasi pun menjadi ladang bagi timbulnya perselisihan dan pertikaian.
Saya yang orang jawa ini terkadang harus menutup diri dari pergaulan karena menghindari munculnya permasalahan. Kalau saya menyebutnya, mencari aman. Kenapa saya seperti itu? Karena pengalaman pribadi yang mengajarkan pada saya, bahwa dalam rumpun masyarakat yang majemuk, salah bicara sedikit saja sudah menimbulkan fitnah dan penafsiran yang beragam dan berujung pada perselisihan yang merugikan diri kita sendiri akhirnya. Jika saya berselisih dengan tetangga, pastinya kehidupan saya menjadi tidak nyaman.
Berbaur dengan masyarakat Bekasi, saya merasakan hal yang sangat berbeda. Dimana menurut saya dalam kehidupan mereka, yang menjadi prioritas masyarakat adalah "happy". Contoh kecil adalah dalam hal konsumsi, entah itu makanan sehari hari maupun jajan. Dibekasi saya melihat orang akan membeli apapun yang mereka ingin dan senangi, kalau pengen beli bakso ya beli, sate, martabak dan es campur, atau segala macam macamnya. Mereka tidak akan berfikir dua kali untuk membelinya. Walaupun uang yang mereka miliki terbatas jumlahnya,yang penting saat itu cukup buat beli. Hal tersebut berlaku dalam hal berbusana, istilah "kekinian" begitu familiar dalam masyarakat. Bukan untuk yang punya materi saja yang mengikuti trend atau kekinian, tapi semua masyarakat tanpa terkecuali. Walaupun hanya bisa beli kw, yang penting show on and happy. Jadi jangan heran jika pedagang jenis dagangan apapun akan laku dengan laris manis di sana, karena karakter masyarakat terbilang konsumtif dan hal tersebut sangat menguntungkan pedagang.
Lain halnya dengan orang Lamongan. Berkaca pada diri saya sendiri misalnya, bahwa jika saya pegang uangpun, tidak serta merta akan saya belikan sesuatu yang saya inginkan jika nilai guna dari apa yang saya beli tidak seberapa. Misalnya makanan atau jajanan, bagi saya jika saya ingin beli bakso tapi saya sudah memasak rendang pada hari itu, maka saya akan menunda bahkan tidak menghiraukan keinginan saya itu. Lha kalau beli bakso maka rendang saya siapa yang makan? Pasti tidak habis, begitu difikiran saya. Apalagi bila pengen beli baju, saya berfikir manfaatnya apa jika saya sudah memiliki banyak baju yang masih bagus. Jadi kesannya itu pelit ya,hehehe. Kadang saya mengamati dan introspeksi diri, apa hal tersebut saya alami sendiri ataukah orang lainpun sama begitu? Tentunya orang Lamongan yang saya maksud, dan umumnya orang jawa timur.
Untungnya saya punya tetangga majemuk jadi saya bisa belajar tentang perbandingan diri saya khususnya sebagai orang jawa timur. Tetapi yang dari jawa tengahpun saya lihat tidak jauh berbeda seperti saya. Bersikap "pelit" ternyata punya sisi positif bagi masa depan, karena uang dikantong pastinya aman maka rekening menjadi gendut maka rumah akan kebeli dengan cepat dan lain lain. Meskipun kesannya agak menderita ya, hehehehe. Maaf saya bilang begitu karena kalau dalam istilah saya "ngempet" artinya nahan, Nahan keinginan pengen ini itu.
Yang saya suka dari masyarakat di bekasi ini adalah selalu happy. Rata rata yang saya lihat dari mereka masyarakat menengah ke bawah tidak akan pusing dengan keadaan rumah sederhana mereka, Jadi seolah olah rumah yang bagus bukanlah ukuran atau tujuan utama,dan orang juga tidak akan dihormati karena memiliki rumah besar dan mewah. Yang penting happy. Kesan yang saya dapatkan adalah santai, rileks, bahagia.
Beda halnya di Lamongan orang orang akan sibuk bekerja banting tulang sampai menjadi tki bertahun tahun demi sebuah "pengakuan", Bahwa rumah yang bagus atau mewah adalah ukuran kesuksesan dan keberhasilan seseorang. Seolah olah tolak ukur kaya atau tidaknya seseorang itu dilihat dari rumah mereka, bahkan jor joran (bersaing saling mendahului) kalau dalam urusan rumah. Tujuan utama pokoknya punya rumah yang bagus, lebih bagus dari tetangga atau minim tidak kalah sama tetangga. Pokoknya Rela hutang deh demi punya rumah yang dianggap ideal.
Terlepas dari benar atau tidaknya tulisan saya, saya berharap tidak ada pihak yang merasa tersinggung, semua orang punya persepsi masing masing dan berbeda beda. Semua hal bisa kita lihat dari banyak sisi yang berbeda, masing masing pasti punya sisi kelebihan dan kekurangan. Semoga pembaca bisa mengambil hal yang positif dari tulisan saya.
Bagi saya pribadi memang rumah itu sangat penting, tapi tidak usah kita memaksakan diri untuk memiliki rumah yang bagus dan mewah. Karena rumah adalah istana kita, yang terpenting adalah nyaman dan bersih. Sebagus apapun rumah menjadi tidak ada gunanya jika itu bukan milik kita atau jika kita tidak bahagia.
Rabu, 18 Januari 2017
ARTI SAHABAT
Ia adalah seorang kawan sekolah, yang waktu masih duduk di bangku sekolah masing masing dari kami tidak begitu akrab. Dia punya teman dekat begitu juga denganku.
Ketika lulus sekolah menengah atas, ada satu peristiwa yang menuntun langkahku untuk berkunjung ke rumahnya.
Akhirnya hubungan pertemanan kami berproses dan terprogres. Apalagi semua peristiwa yang melanda hidup kami berdua. Mulai dari kisah karir yang hampir sama, kisah asmara yang jauh berbeda, hingga masalah individu. Rasanya tak ada hal yang tidak kami lewati tanpa melibatkan masing masing.
Delapan tahun berlalu dengan jarak diantara kami, tapi hubungan pertemanan itu tidak sedikitpun berubah. Dia hampir tidak pernah mengunjungiku, Aku lah yang berkunjung ke rumahnya. Tapi tidak masalah bagiku.
Suatu tahun aku mengalami masalah yang agak pelik, dia pun sama. Rumah tangganya diujung tanduk, ketika suaminya memilih berpaling. Aku sendiri ditimpa dilema antara suami dan orangtua. Singkat kata orang tuaku membutuhkan aku, tapi itu artinya aku harus meninggalkan suami demi orangtuaku. Alhamdulillah suamiku mengerti, aku diberi kesempatan untuk mendampingi orang tuaku.
Aku kembali ke kampung halamanku, memindahkan sekolah anakku. Aku pasrah pada Tuhan, aku hanya berharap pengorbanan aku dan suami tidak akan sia sia nanti. Dengan kepulanganku kembali ke kampung halaman, kembali hubunganku dengan temanku begitu dekat. Apalagi disaat masalah kembali menerpaku, aku positif harus menjalani operasi pengangkatan polip di usus besar. Tak ada yang bisa aku andalkan untuk mendampingi, apalagi aku ini karakter orang yang tidak mau menyusahkan orang lain dan selalu ingin mengatasi semua masalah sendiri. Ya bisa dibilang cenderung tertutup, tetapi memang dari awal sahabatkulah yang memberi motivasi dan menawarkan dirinya untuk kesembuhanku.
Alhamdulillah akhirnya semua yang disarankan sahabatku itu aku ikuti sehingga aku bisa sehat kembali dalam waktu yang tidak begitu lama. Bayangkan ibuku harus merawat bapak dirumah yang kondisinya sudah sangat lemah, usianya 90 tahun. 2 anakku juga masih kecil, satu duduk dibangku kelas lima sekolah dasar dan yang kedua baru duduk di taman kakak kanak. Aku sendiri adalah anak bungsu dari 5 bersaudara, tetapi ke empat kakakku sudah dipanggil oleh yang maha kuasa. Kalaupun banyak kerabat tapi memang aku ini agak tertutup, jadi sebesar apapun masalah yang aku alamipun tidak akan banyak yang tau kecuali setelah masalah itu beres, hehehehe.
Sahabat adalah teman hidup yang dikirimkan Tuhan sebagai anugerah. Ia tidak akan menghitung untung rugi saat bersama kita. Ia selalu ada walau kehadirannya tidak kita minta.
Trimakasih sahabatku "surya noviyanti muslimah" semoga kita menjadi sahabat dunia akhirat, aamiin...
Rabu, 04 Januari 2017
LIVE STORY
Aku dan suamiku bertemu di saat kami menjadi mahasiswa disalah satu universitas daerah di jawa timur.
Cinta yg mengikat kami tidak butuh waktu yang lama untuk saling mengenal atau saling mengerti satu sama lain. Aku melihatnya sebagai sosok yang santun dan sangat sopan. Walaupun dia bukan tipe yang serius, tapi dia berani menerima tantangan orang tuaku untuk meresmikan hubungan dalam ikatan pernikahan.
4 bulan menjalani masa pacaran tidaklah menjadikan keraguan kami melebihi niat kami untuk serius. Singkat kata kami menikah disaat usia kami baru 22 tahun,saat masih aktif sebagai mahasiswa semester 5.
Bisa dikatakan modal kami dalam berumah tangga adalah modal dengkul, karena waktu itu suamiku hanyalah guru honorer di salah satu sekolah dasar negeri dikampung kerabat kami. Aku adalah tipikal wanita yang sederhana dalam segala hal, sedangkan suamiku tipikal lelaki borjuis dan perfeksionis.
Aku yang peka ingin pengertian dalam segala hal, dan suami yang komunikatif ingin apapun diomongin. Istilah aku pribadi yang dalam bahasa jawa aku menyebutnya 'rumongso' sedangkan suami yang cuek menunggu instruksi atau omongan agar ia tau apa yang harus dikerjakan.
Mungkin banyak pasangan mengalami yang namanya perbedaan, tetapi perbedaan aku dan suami itu ibaratnya adalah kebalikan, kadang aku yang ngalah agar berdamai, tapi tak jarang dia yang mengibarkan bendera perdamaian. Satu hal yang selalu aku rindukan adalah dia selalu bisa membuat aku tertawa, jadi bagaimana mungkin aku bisa marah walaupun aku pemarah jika dia adalah alasanku tertawa...?
Sifatku yang serius dan pemikir satu atap dengan lelaki yang selalu menganggap apapun sebagai lelucon. Dia menganggap aku sebagai wanita pemarah, sedangkan aku merasa kalau aku punya alasan untuk marah. Aku yang penuh perhatian harus menghadapi lelaki cuek, seperti tidak punya hati sebagai sumiku. Selera dan prinsip kami berdua pun tidak pernah satu, selalu berbeda.
Kadang kami sama sama jenuh dengan perbedaan itu, tapi entah mengapa kami bisa tetap bersama hingga saat ini.
11 tahun pernikahan dengan banyak percekcokan, pertengkaran, perselisihan, perdebatan, dan macam macamnya.
Satu hal yang selalu kami miliki, yaitu ndableg. Setelah berdebat sengitpun kami bersikap 'ya sudahlah' ... Kita suami istri...
Kami tidak pandai dalam mendeskripsikan makna CINTA. Tapi kami belajar untuk mencintai dan dicintai dalam setia dan ikatan sah.
Langganan:
Postingan (Atom)



