Ia adalah seorang kawan sekolah, yang waktu masih duduk di bangku sekolah masing masing dari kami tidak begitu akrab. Dia punya teman dekat begitu juga denganku.
Ketika lulus sekolah menengah atas, ada satu peristiwa yang menuntun langkahku untuk berkunjung ke rumahnya.
Akhirnya hubungan pertemanan kami berproses dan terprogres. Apalagi semua peristiwa yang melanda hidup kami berdua. Mulai dari kisah karir yang hampir sama, kisah asmara yang jauh berbeda, hingga masalah individu. Rasanya tak ada hal yang tidak kami lewati tanpa melibatkan masing masing.
Delapan tahun berlalu dengan jarak diantara kami, tapi hubungan pertemanan itu tidak sedikitpun berubah. Dia hampir tidak pernah mengunjungiku, Aku lah yang berkunjung ke rumahnya. Tapi tidak masalah bagiku.
Suatu tahun aku mengalami masalah yang agak pelik, dia pun sama. Rumah tangganya diujung tanduk, ketika suaminya memilih berpaling. Aku sendiri ditimpa dilema antara suami dan orangtua. Singkat kata orang tuaku membutuhkan aku, tapi itu artinya aku harus meninggalkan suami demi orangtuaku. Alhamdulillah suamiku mengerti, aku diberi kesempatan untuk mendampingi orang tuaku.
Aku kembali ke kampung halamanku, memindahkan sekolah anakku. Aku pasrah pada Tuhan, aku hanya berharap pengorbanan aku dan suami tidak akan sia sia nanti. Dengan kepulanganku kembali ke kampung halaman, kembali hubunganku dengan temanku begitu dekat. Apalagi disaat masalah kembali menerpaku, aku positif harus menjalani operasi pengangkatan polip di usus besar. Tak ada yang bisa aku andalkan untuk mendampingi, apalagi aku ini karakter orang yang tidak mau menyusahkan orang lain dan selalu ingin mengatasi semua masalah sendiri. Ya bisa dibilang cenderung tertutup, tetapi memang dari awal sahabatkulah yang memberi motivasi dan menawarkan dirinya untuk kesembuhanku.
Alhamdulillah akhirnya semua yang disarankan sahabatku itu aku ikuti sehingga aku bisa sehat kembali dalam waktu yang tidak begitu lama. Bayangkan ibuku harus merawat bapak dirumah yang kondisinya sudah sangat lemah, usianya 90 tahun. 2 anakku juga masih kecil, satu duduk dibangku kelas lima sekolah dasar dan yang kedua baru duduk di taman kakak kanak. Aku sendiri adalah anak bungsu dari 5 bersaudara, tetapi ke empat kakakku sudah dipanggil oleh yang maha kuasa. Kalaupun banyak kerabat tapi memang aku ini agak tertutup, jadi sebesar apapun masalah yang aku alamipun tidak akan banyak yang tau kecuali setelah masalah itu beres, hehehehe.
Sahabat adalah teman hidup yang dikirimkan Tuhan sebagai anugerah. Ia tidak akan menghitung untung rugi saat bersama kita. Ia selalu ada walau kehadirannya tidak kita minta.
Trimakasih sahabatku "surya noviyanti muslimah" semoga kita menjadi sahabat dunia akhirat, aamiin...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar