Senin, 16 September 2019

MENUJU NO 1 Itu.., BERAT


Konstelasi politik berlangsung di 2 kabupaten di Jawa Timur dalam waktu yang hampir berdekatan. Adalah kabupaten Bojonegoro yang di bulan Maret dan Juni 2019 dan di kabupaten Lamongan pada bulan September 2019 yang menyelenggarakan hajat besar yakni pemilihan kades serentak dihampir semua desa.

Sebanyak 156 desa di 27 kecamatan di Bojonegoro melaksanakan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak pada bulan Maret dan gelombang II pada 26 Juni 2019. Seluruh anggaran pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak 2019 ditanggung Alokasi Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemkab Bojonegoro. (Blogbojonegoro.com). Sedangkan pillkades serentak di Lamongan digelar di 385 desa pada bulan September 2019. Kades incumbent atau petahana harus mengambil cuti penuh apabila yang bersangkutan hendak maju mengikuti Pilkades tersebut.



Dalam perhelatan politik ini, bermacam persiapan dilakukan masing masing Cakades untuk memenangkan pemilihan. Satu dari banyaknya calon akan menjadi pemenang dan berhak memimpin pemerintahan dalam kurun waktu 6 tahun kedepan. Bila prestasi yang ditorehkan berwujud pada perkembangan dan kemajuan desa maka kemungkinan besar pada pemilihan kades periode selanjutnya akan didapuk masyarakat untuk mencalonkan lagi.

Untuk memulai langkah besar seperti mencalonkan diri maju dalam perhelatan politik terutama Pilkades, ada beberapa langkah penting yang perlu dilakukan agar hasil yang diinginkan bisa terwujud. Diantaranya :

1. Mulai dengan niat yang baik dan tulus.

Ketulusan bukanlah hal yang terlihat dalam ucapan maupun tingkah laku tapi niat yang tulus mampu dirasakan dampaknya dalam kurun waktu tertentu, melalui tindak laku dan konsistensi komitmen.
Calon yang tidak memiliki niat baik dan tulus, sudah pasti ingin maju menjadi pemimpim bukan untuk pengabdian diri dimasyarakat sekitar. Kalaupun ada niatan baik persentasenya maksimal 50 persen terbagi pada faktor kepentingan yang mendominasi, baik kepentingan jabatan kehormatan diri maupun materiil yang memadai selama menjadi pemimpin.

2. Berdo'a disetiap waktu dan kesempatan.
3. Berusaha dengan maksimal

Bersambung...

Jumat, 09 Agustus 2019

Langit



Hari hari terakhirku di kota ini telah datang, kesibukan kemarin sudah tak lagi terlihat pada aktifitas dan rutinitas setiap harinya. Sepi telah kembali, dan aku pasti meraung raung karena ditinggalkan kesibukan.
Dalam hitungan mundur semakin tidak enak rasanya dan sekarang aku sudah merasa ingin pulang.

Kota ini beberapa bulan sudah menjadi rumah nyaman bagiku, tapi dihari hari terakhir kenyamananku seolah hilang begitu saja. Aku mulai terbayang lamongan yang hijau gemericik dan sepoi anginnya melambai memanggilku setiap aku jauh.


Sudah beberapa bulan lamanya aku singgah dibeberapa Desa di Kabupaten ini, dari yang terjauh sampai yang terdekat letaknya dari kota. Bertemu dengan berbagai macam karakter masyarakat asli yang ramah dan  welcome pada kehadiran orang luar nan asing bagi mereka.
Biasanya dibulan penghujung tahun sudah turun hujan, tapi untuk tahun ini langit bojonegoro masih membawa awan panas. Dibeberapa Desa bahkan sampai kekurangan air dan warga Desa terpaksa mengantri air bersih yang disediakan oleh pemerintah Desa dan sumbangan beberapa lembaga.
Medan yang lumayan berat juga harus aku lalui ketika menempuh beberapa Desa, disamping faktor cuaca terik ada pembangunan jalanan yang sejak mulai pengurukan mengharuskan pengguna jalan untuk waspada dan berhati hati, terlebih bila jalanan perbukitan yang berkelok dan turunan tajam.

Arakan awan sekarang sudah berubah kelabu. Hujan sudah hendak jatuh disepanjang sore seperti halnya kemarin.
Bersambung



.








Kamis, 27 Juni 2019

MENIKAH namun TAK BERSUAMI



Aku menulis ini untuk siapapun yang memiliki hati. Anggap saja perempuan dalam tulisan ini adalah aku, perempuan dengan status menikah namun suami tak ada.
Tapi jangan ditanya "kemana" anggap saja berpisah karena lagi berada di luar kota untuk suatu pekerjaan, walaupun alasan perpisahan itu sebenarnya ibarat penyakit komplikasi, ruwet. Seandainya kamu atau aku diberi pilihan maka memilih bertahan dalam sebuah pernikahan bagaimanapun situasinya/ bagaimana sulitnya pasti akan menjadi pilihanmu dibandingkan memilih untuk menjadi janda.
Jika pun kamu atau aku merasakan kondisi dalam rumah tangga yang sangat menyakitkan, maka solusinya adalah lari meninggalkan tapi bukan untuk memutuskan bercerai. Mungkin kamu cuek membiarkan pasanganmu bersama orang lain, dan pasti itu membuat kamu terluka tetapi kamu akan bertahan bersama anak anak dan membiarkan statusmu "menikah" tetap bertengger pada tempatnya.
Bukan masalah KTP, yang terberat dari itu adalah beban psikologi yang kamu rasakan seterusnya. Kamu akan tau bahwa status itu lebih penting dibanding beban yang kamu dapatkan dari putusnya sebuah pernikahan.

Bersembunyi dibalik status terasa lebih menyenangkan dan menenangkan dibanding memilih gelar baru yang disebut zaman dengan istilah single parent alias janda.

Kamu akan berjalan dengan kesalahan kesalahan yang dituduhkan, mereka tak akan faham terlepas mereka itu tau atau tidak.
Kamu akan menemui kebingungan dan kehabisan alasan saat memberi jawaban pada banyak pertanyaan hingga kamu lelah, kamu akan mencari apapun untuk menyembunyikan gelar jandamu itu.
Bukan karena malu lagi, tapi kamu tak ingin menambah beban yang menumpuk  akibat berbagai jenis pelecehan sikap dan kata yang sudah membudaya itu.
Kamu tak bisa dan tak akan mampu mendobrak nilai nilai yang sudah lekat dimasyarakat pada predikat jandamu. Jika poligami saja tak mampu diterima, maka jangan berharap gelar janda cerai akan diberi kedudukan yang Mulya.
Maka begitu jarang janda cerai berlama lama melajang. Maka benar saja kamu akan bertanya "untuk apa aku bercerai jika bukan untuk menikah lagi?"

Jadi, jangan heran jika perempuan tetap bertahan dalam pernikahan meskipun tanpa suami. Jangan heran jika kita menemui perempuan berstatus menikah tanpa ada suami akan baru memutuskan bercerai saat sudah akan menikah lagi.

Rabu, 26 Juni 2019

CARA MELEPASKAN DIRI DARI JERATAN HUTANG


Terkadang saat dalam masalah keuangan, kebutuhan yang mendesak, maupun keadaan ekonomi yang sulit memaksa kita untuk mengambil jalan keluar untuk mengatasinya dengan jalan kredit atau hutang. Padahal justru dengan cara yang satu inilah kita menceburkan diri pada masalah yang lebih besar.

Hutang atau Utang menurut Wikipedia adalah sesuatu yang dipinjam baik berupa uang maupun benda. Seseorang atau badan usaha yang meminjam disebut debitur. Entitas yang memberikan utang disebut kreditur.

Hutang sudah pasti adalah kewajiban bagi kita untuk membayarnya, terlebih apabila jatuh temponya telah berakhir. Disamping kewajiban melunasi sejumlah nilai yang telah kita pinjam, terdapat beban bunga sekian persen yang harus kita bayar pula. Alhasil hutang ibarat pisau bermata dua yang dari sisi sisinya mampu melukai semua orang.

Nah apabila sudah terlanjur berhutang maka ada langkah jitu untuk keluar dari jeratan hutang itu, beberapa diantaranya :

1. Batalkan perjanjian kredit/hutang
Langkah ini untuk kasus hutang yang baru saja terjadi alias masih anget. Sudah pasti ada beban kerugian yang harus kita tanggung, tapi mumpung belum jadi gunung es mendingan masalah hutang dicairkan seketika alias tidak jadi atau batal, jangan takut untuk menanggung konsekuensinya. Ingat bahwa hutang itu bukan solusi melainkan tanggungan, semakin besar yang anda tanggung maka semakin besar beban yang anda pikul.

2. Segera lunasi
Memang terdengar klise, tapi langkah selanjutnya ya memang harus dilunasi tentunya jika hutang lunas tak ada lagi bunga berjalan dan pihak pihak seperti debt kolektor yang datang untuk menagih.
Jika memang harus menjual aset, ya apa boleh buat. Tapi dilihat juga nilai guna aset tersebut terlebih dahulu. Jika nilai guna lebih besar dibanding beban hutang maka tidak perlu menjual aset berharga yang dimiliki.

3. Libatkan saudara, kerabat, sahabat, atau rekan untuk andil dalam upaya membayar hutang.
Cara yang bisa dilakukan di poin ini adalah bisa dengan pelunasan atau dipercepat waktu pelunasannya. Disini hampir sama dengan poin nomor 2, tetapi yang ditekankan disini adalah adanya donatur dari orang orang baik terdekatmu yang bersedia meminjamkan uang pada dengan cara patungan tanpa imbalan bunga atau dengan imbalan sukarela. Dalam bahasa kasarnya, gali lobang tutup lobang seperti lagunya bung haji Rhoma irama. Tetapi harus diingat bahwa jangan jatuh di lubang yang sama ya.

4. Uji nyali untuk melompat yang jauh.
Nah jika sudah benar benar tidak mampu untuk keluar dari jeratan hutang, maka ambil langkah seribu untuk berkarya yang lebih baik. Jadikan hutangmu sebagai motivasi untuk maju. Tanamkan di hatimu bahwa kamu akan membayar hutang itu dengan tepat waktu dan tidak akan lagi terlibat hutang setelah ini. Lakukan usaha nyata untuk mengakhiri mata rantai hutang yang telah melilit hidupmu dengan gaya hidup sederhana, hemat, dan usaha sampingan untuk menambah penghasilan mu. Jika perlu keluarlah dari zona nyaman, hijrah untuk bekerja yang bergaji lebih dan cukup untuk membayar hutang hutangmu.

Demikian langkah langkah yang sudah penulis praktekkan disaat terlilit hutang, semoga bermanfaat.
#ayomenabung #janganberhutang #budayakanmenabung.