Aku menulis ini untuk siapapun yang memiliki hati. Anggap saja perempuan dalam tulisan ini adalah aku, perempuan dengan status menikah namun suami tak ada.
Tapi jangan ditanya "kemana" anggap saja berpisah karena lagi berada di luar kota untuk suatu pekerjaan, walaupun alasan perpisahan itu sebenarnya ibarat penyakit komplikasi, ruwet. Seandainya kamu atau aku diberi pilihan maka memilih bertahan dalam sebuah pernikahan bagaimanapun situasinya/ bagaimana sulitnya pasti akan menjadi pilihanmu dibandingkan memilih untuk menjadi janda.
Jika pun kamu atau aku merasakan kondisi dalam rumah tangga yang sangat menyakitkan, maka solusinya adalah lari meninggalkan tapi bukan untuk memutuskan bercerai. Mungkin kamu cuek membiarkan pasanganmu bersama orang lain, dan pasti itu membuat kamu terluka tetapi kamu akan bertahan bersama anak anak dan membiarkan statusmu "menikah" tetap bertengger pada tempatnya.
Bukan masalah KTP, yang terberat dari itu adalah beban psikologi yang kamu rasakan seterusnya. Kamu akan tau bahwa status itu lebih penting dibanding beban yang kamu dapatkan dari putusnya sebuah pernikahan.
Bersembunyi dibalik status terasa lebih menyenangkan dan menenangkan dibanding memilih gelar baru yang disebut zaman dengan istilah single parent alias janda.
Kamu akan berjalan dengan kesalahan kesalahan yang dituduhkan, mereka tak akan faham terlepas mereka itu tau atau tidak.
Bersembunyi dibalik status terasa lebih menyenangkan dan menenangkan dibanding memilih gelar baru yang disebut zaman dengan istilah single parent alias janda.
Kamu akan berjalan dengan kesalahan kesalahan yang dituduhkan, mereka tak akan faham terlepas mereka itu tau atau tidak.
Kamu akan menemui kebingungan dan kehabisan alasan saat memberi jawaban pada banyak pertanyaan hingga kamu lelah, kamu akan mencari apapun untuk menyembunyikan gelar jandamu itu.
Bukan karena malu lagi, tapi kamu tak ingin menambah beban yang menumpuk akibat berbagai jenis pelecehan sikap dan kata yang sudah membudaya itu.
Kamu tak bisa dan tak akan mampu mendobrak nilai nilai yang sudah lekat dimasyarakat pada predikat jandamu. Jika poligami saja tak mampu diterima, maka jangan berharap gelar janda cerai akan diberi kedudukan yang Mulya.
Maka begitu jarang janda cerai berlama lama melajang. Maka benar saja kamu akan bertanya "untuk apa aku bercerai jika bukan untuk menikah lagi?"
Jadi, jangan heran jika perempuan tetap bertahan dalam pernikahan meskipun tanpa suami. Jangan heran jika kita menemui perempuan berstatus menikah tanpa ada suami akan baru memutuskan bercerai saat sudah akan menikah lagi.
Jadi, jangan heran jika perempuan tetap bertahan dalam pernikahan meskipun tanpa suami. Jangan heran jika kita menemui perempuan berstatus menikah tanpa ada suami akan baru memutuskan bercerai saat sudah akan menikah lagi.
