Sabtu, 30 Mei 2020

BERTAHAN DI TENGAH CORONA (Bagi pengangguran)

Virus ini sudah melumpuhkan dunia. Katanya teori konspirasi ikut andil dalam pengadaannya. Ekonomi negeriku lumpuh, aktivitas publik terhenti, para pemimpin kewalahan mencari solusi terbaik untuk mengatasinya, tokoh tokoh beradu opini dan asumsi dalam mencari penemuan jalan pemutus rantai penyebaran dan penyembuhan terdeteksi virus untuk menekan dan mengurangi korban yang berjatuhan karenanya.

Corona terus melaju bak primadona yang hadir dimana mana, semua resah takut dihinggapi, untuk mendeteksinya begitu mahal ongkosnya. Entah berapa pekan untuk himbauan isolasi diseluruh negeri. Tak disangka begitu dahsyatnya efek yang terjadi.

Bila hari biasa saja hidup terasa sudah sulit lantas Bagamaimana dengan keadaan saat terjadi pendemi?? Untuk pengangguran hal yang terpenting adalah bisa makan. Bahasa dan hal yang sangat biasa untuk semua orang karena jika ditelisik ke ranah Agama itu bagian Dari rejeki, selama nafas masih berhembus pastilah ada rejekinya.

Banyaknya motivator di semua kalangan dari yang kelas kampung sampai publik figur dengan ragam jenisnya mulai keluar lagi dengan wajah Baru, mengajak produktif intinya. Berbisnis, berniaga, Dan sebagainya atau cuma bertingkah gila saja cukup. Itu bagian dari kreatifitas tanpa batas yang mempunyai sasaran viral dan terkenal.

Ah sudahlah, bagi yang pengangguran sebenarnya bukan miskin ide dan kreatifitas. Kondisi real tak semudah kata kata motivator dan teori dalam kelas kelas online atau bahan ajar e book yang berpuluh halaman itu, gratis memang walaupun nyatanya untuk membukanya juga butuh pulsa. Bagi pengangguran apa yang didepan mata akan dijalani dengan cara sederhana, tak perlu panduan teori lagi. Pengangguran sejatinya melihat, menunggu, dan mencari peluang untuk mendapatkan hasil yang halal sekedar untuk kelangsungan hidup terutama adalah makan.