Selasa, 04 Desember 2018

MATAHARI DIBULAN DESEMBER

Bulan desember sudah tiba menandakan tahun sudah berada dipenghujungnya,
padahal rasanya belum lama tahun baru itu tiba.

Hujan sudah menyirami kegersangan bumi yang kering terbakar selama musim kemarau yang kemarin itu
yang meninggalkan ranting dan daun kering disetiap sudut cabangnya,
sama seperti sawah ladang tanpa tanaman kecuali Damen sisa panen padi terakhir petani yang dibiarkan begitu saja.
Rumput sudah mulai subur sudah menjadi hama padahal baru beberapa waktu guyuran air hujan menderanya,
pasti beberapa  petani sudah mulai sibuk menyemaikan benih padi buat musim tanam kali ini.

Saat ini hujan  turun dengan lebatnya seperti hari hari kemarin,
sejak memasuki bulan Desember memang hujan sering turun setiap harinya.
Tapi dihari ini ada yang istimewa,
aku bercerita pada Tuhan bahwa hari ini kamu ulang tahun.
Aku cuma bisa mendoakan agar kamu diberikan kesehatan dan keselamatan dunia akhirat, panjang umur dan bahagia tentunya.
Dan doa yang terpenting adalah kita nanti akan diberikan Husnul khotimah dipenghujung usia yang Allah titipkan pada kita berdua.

Matahari dibulan Desember seakan tak bersinar karena cuaca, langit yang teduh dan angin yang membawa mendung menenggelamkan cahayanya. Seperti halnya tahun ini yang sebentar lagi berakhir seiring dengan berakhirnya bulan Desember, begitu pula masalah hidup yang akan selesai dengan datangnya masalah lain.
Perjalanan waktu bagaikan irama pengulangan sejarah,
akan terulang kembali sejarah yang sama dengan pembaharuan yang seolah menjadi cerita baru dalam kehidupan kita.
Aku dan kamu apakah akan mengulang sejarah masa silam itu?
Meski berharap kita bisa memperbaiki sejarah untuk hari esok pada hubungan kita tetapi sebelum kata halal melabeli hubungan kita selama itu pula harus ada jarak diantara kita.

Matahari dibulan Desember pastinya bersinar seperti bulan bulan sebelumnya,
hanya saja ia sering tertutup awan kelabu yang membawa rinai hujan.
Seperti  mewakili perasaanku,
aku tetap menunggu dengan gunung kerinduan yang seakan beku karena keadaan.
Apa cinta ini berharga bagimu, termasuk kerinduanku?
Karena rasa rinduku itu terabaikan oleh kesibukanmu.
Kita begitu dekat namun tak pernah bisa berjumpa.
Sejujurnya sebagai seorang yang sangat menyayangimu tentu saja aku begitu ingin saat ini bersamamu,
menikmati aroma hujan dan membuatkan teh hangat untukmu,
melihatmu berjibaku dengan kesibukan yang tiada habisnya,
memastikan kamu baik baik saja dan menemani waktu istirahatmu yang mungkin tak seberapa itu.

Mencintaimu tidaklah mudah,
ini adalah Desember ketiga aku menunggumu.
Kesetiaan ini tidak ada apa apanya dibandingkan cerita sebelumnya,
kesetiaan ini adalah bagian dari cintaku yang tidak biasa.
Begitu banyak pilihan memang,
aku tak bisa berkata pada dunia alasanku menutup hati karena telah adanya dirimu yang sulit terganti.
Mungkin pula karena belum ada alasan yang membuatku yakin untuk melepaskan keyakinan menunggumu.

Kamu bukan orang baru dan kita sudah saling mengenal,
itu pula yang menjadi pertimbangan sebuah keyakinan.
Hari ini aku tak berani mengucapkan apapun langsung kepadamu,
tapi dibulan Desember yang akan datang nanti aku berharap kita sudah bersama dalam ikatan yang halal dengan Ridha Illahi.
Aamiin