Kerinduan pada peristiwa yang menguras rasa yang telah jauh meninggalkan kenangan bisu namun membayang di pelupuk mata. Kerinduan pada harapan dan impian akan sesuatu yang sangat kita dambakan, mungkin itu adalah kerinduan yang tak bisa dijelaskan lewat kata namun begitu perih mengiris hati. Tak bisa kalian fahami jika belum pernah merasakan sendiri jenis kerinduan ini.
Musim hujan berlalu mengiringi kesendirian dalam proses langkah awal dikampung halamanku. Tak bisa aku jelaskan detail perjalanan ini, langkahku kembali setelah bertahun tahun lamanya aku tinggalkan. Mungkin tak seharusnya disebut hijrah dan justru aku seakan throwback pada tempat dimana begitu banyaknya kenangan aku dan kakakku yang telah tiada menghabiskan masa kecil kami dengan getir dan pahitnya.
Aku menyebut keputusanku itu adalah keputusan melepaskan, aku meninggalkan hampir semua yang bersifat duniawi dan ingin menjadi pribadi yang lebih baik terutama dalam hal ibadah dan akidah. Proses menjalani keputusan ini adalah titik terendah aku kembali memulai hidup yang sangat sulit, penuh ratapan dan keluhan. Proses aku harus menerima semua tudingan, prasangka, dan semua jenisnya itu.
Terkadang Allah memalingkan hati kita terlebih dahulu, baru kita mempunyai keberanian untuk mengambil keputusan dan tindakan yang teramat sulit dalam hidup. Begitu pula aku, menyadari ingin pergi kembali pada titik dimana aku bisa lepas dan leluasa menjalani hidup, ibadah, setia, berkarya, mengabdi, dan melakukan banyak hal yang terbaik dengan nyaman dan tenang. Aku tak pernah jujur pada diriku sendiri jika bertahun tahun lamanya aku dalam rongrongan rasa bersalah karena terbiasa disalahkan walaupun oleh perkara sepele walaupun kesalahan bukan padaku, menghibur diri sendiri bahwa semua tekanan itu adalah bukti cinta yang harus aku terima. Posesive kata umumnya. Terjajah oleh diriku sendiri karena setiaku pada jiwa yang keliru?
Sekian lama aku merindukan sosok yang begitu besar jasa dan pengaruhnya dalam hidupku. Sungguh tak bisa aku bayangkan sebelumnya bagaimana aku mampu kembali ke kampung halamanku lagi dan sendirian tanpanya dan melanjutkan perjuangan sendirian, diusiaku yang sudah mulai beranjak jauh dan dengan begitu banyaknya beban yang harus aku tanggung. Ibu dan bapak kami yang telah renta akan kembali susah dengan kepulanganku bersama cucu cucu mereka, karena pastinya aku harus memulai langkah baru dan bantuan finansial untuk mereka seperti sebelumnya akan berhenti dengan keputusan ini.
Tapi yang paling berat adalah menanggung beban batin, aku ingin sakinah jiwaku. Aku merindukan derai air mata keharuan, ketika mengingat betapa lemah dan kecilnya diri ini dihadapan illahi. Ketika tak mampu melakukan apapun untuk saudara saudara kami di belahan dunia yang tersakiti. Aku rindu tangis itu dari jiwaku, ketika mendengar alunan takbir dan gema asma asma indah NYA namun tiada getaran dalam hatiku. Dengan keputusan itulah aku yakin akan menemukan kedamaian jiwa yang tak sanggup aku melukiskankannya.
Aku mengabaikan kerinduan itu sekian lamanya sampai saat IA memalingkan hatiku, aku kembali untuk memenuhi kerinduan itu. Mengisi kehampaan jiwa dengan banyak mengingat NYA, menanamkan kembali rasa syukur dan sabar pada situasi sesulit apapun didepanku. Apa yang aku takutkan, apa yang aku cemaskan, semua aku kembalikan kepada NYA. Karena hakikatnya aku tidak sendiri, bilapun terjadi semua hal baik maupun buruk adalah atas ijin NYA. Aku selami rasa rindu ini, satu demi satu air mataku kembali menyeka hampa dan kegalauan yang begitu lama mengganggu jiwaku. Dan betapa indahnya rindu ini bersama MU ya Illahi...
