Sering terjadi pada perempuan, saat tamu rutin bulanan datang mood tidak jelas dan suka uring uringan. Tiba tiba nangis, gampang baper dan melow terus bawaannya. Emosi meluap luap ingin bicara tentang semua analisa fikiran sendiri yang
terkadang malah bisa berpotensi menjadi prasangka bila dimaknai oleh orang lain.
Apalagi apabila terjadi permasalahan beruntun seperti yang sedang aku alami beberapa tahun terakhir ini. Bila hari hari biasa aku bisa nangis sesenggukan saat aku membaca ayat ayat NYA padahal bukan karena aku faham artinya. Kalau biasanya dalam sujud aku bisa tersedu sedu mengadu kepada NYA akan kesedihanku. Tapi ketika hari libur khusus bagi wanita itu tiba, seakan tak ada cara menahan gejolak hati, alhasil aku jadi sering melakukan kesalahan dengan menumpahkan unek unek dan keluh kesah. Walaupun keluh kesah atau biasa disebut curhat itu cuma pada orang yang begitu kita percaya, tapi sebetulnya itu tidak perlu atau cenderung tak ada gunanya bahkan malah bisa jadi bumerang disuatu kala. Maka Allah-lah yang menjadi tempat bagi kita yang paling tepat untuk berkeluh kesah. Karena hanya DIA yang paling tau dan mengerti kita melebihi diri kita sendiri yang tidak akan ada sesal dikemudian hari.
Pada diri seseorang akhirnya aku begitu banyak bicara. kehadirannya membangkitkan semuanya. Semangatku, harapanku, tekadku, hasratku, kekuatanku. Entah kata apa lagi yang tepat untuk menggambarkan betapa berartinya Allah menghadirkan kembali dia sebagai oase untukku. Tapi dia juga adalah cobaan baru dengan warna yang berbeda. Tak ada yang boleh menempati posisi tertinggi dilubuk hati terdalam melebihi Allah, tak seharusnya aku memikirkannya melebihi ingatanku pada Allah. Bila gelap mampu menghilangkan bayangan, tapi tak pernah mampu menghilangkan dia dari fikiran.

Waktu terasa lambat berjalan ketika tak ada kabar darinya, tak mudah aku melaluinya tapi aku belajar untuk meredakan gejolak rasaku. Aku ingin sekali meminta dirinya pada Allah tapi aku begitu takut jika Allah punya kehendak yang lain. Bukankah apa yang kita anggap baik belum tentu baik menurut Allah, bukankah apa yang sangat kita sukai belum tentu itu bagus buat kita menurut Allah? aku terus meminta petunjuk agar apapun langkahku dan keputusanku nanti adalah benar menurut Allah meskipunpun salah dalam pandangan manusia, termasuk jika aku memutuskan untuk sendiri seumur hidup bila ternyata dia satu satunya cinta mungkin menjadi sebuah keniscayaan untuk bersama. Yang terjadi adalah takdir telah mempertemukanku kembali dengannya setelah puluhan tahun berpisah dengan takdir masing masing, termasuk rasa cinta inikah? Aku nasehati diriku sendiri, teruslah mencintai dengan ketulusan dan hasilnya biar Allah yang mengaturnya. Meskipun jika endingnya tidak indah pada waktunya, aku percaya barangkali mungkin dengan sendiri aku lebih mencintai Allah dan lebih dekat dengan NYA. Bukankah cinta yang tulus itu tidak berharap sesuatu, belajar seperti matahari saja. Cintai dia dengan tulus maka tidak menimbulkan kekecewaan, karena kita tidak berharap apa apa. Insyaallah aku pernah mencintai dirinya seperti itu. Ya, tulus saja meskipun seringkali hadirnya sepi dan rindu itu menyiksa jiwa.
Seringkali diujung pagi yang begitu hening dan sunyi aku ingin berlari ketempatnya, aku tau dijam itu dia masih terjaga dengan aktifitasnya. Aku ingin membantunya dan menemaninya melewati jam jam sibuk agar bisa merasakan berada dalam posisinya. Bukankah aku yang lebih punya waktu luang, bukankah aku tak selelah dia dalam pekerjaan? Aku belajar lagi tentang kesabaran, mencintainya adalah ingin membuatnya bahagia bukan melibatnya pada masalah. Kepedihanku, keadaanku yang tengah terpuruk dalam masa sulit ini biarlah aku menyelesaikan semua sendiri , ada Allah bersamaku yang menemani ditiap jengkal langkah ini, ada cinta yang besar untuk dia yang tak pernah padam oleh waktu dan keadaan. Cinta yang terkadang membuatku merasa hidup meskipun sering menguras air mata yang tiba tiba jatuh tanpa terasa karena haru biru rasa rindu yang tertahan. Aku memang sendiri tanpa ada kerabat, tak ada saudara, tapi ada Allah. Keadaan sulit ini akan berlalu walau aku tak tau sampai kapan itu.
Ingat pada satu kalimat bahwa tak ada yang akan menolong kecuali diri kita sendiri, jadi seberat apapun perjuangan ini dalam hidup dan dalam menanggung beban cinta dihati karena keadaan tak menyatukan kita dengan orang yang begitu kita cintai, tetaplah kita harus teguh pada kebaikan. Karena kekuatan dan kelemahan itu tak ada jarak, kita yang harus membuat sekat diantara keduanya agar kelemahan itu menjauh. Jadi aku harus mampu menempatkan Allah diatas cintaku, aku harus mampu meredam gejolak itu. La haula wala quwwata illa billah, meskipun kadang aku bertanya tanya sendiri jika dia adalah pilihan Allah untukku kenapa sampai hari ini dia tidak segera datang untuk menghalalkan? karena masa perpisahan itu sudah pernah kami lalui dan rasakan diwaktu yang tidak sebentar. Kenapa dia tidak menjemputku disini yang terus menanti, menjawab panggilan cinta bila rasa itu memang ada diantara kami..?
Episode kedua
Renungan sunyi menunggu pagi dihari hari akhir 2017.
"Ketika cinta memanggil"
Ada tiada rasa dalam cinta
rindu akan memanggil Mu
karena setiap jiwa tlah bersumpah setia hanyalah kepada Mu
Bila cinta ada di dalam jiwa
wangi bunga dunia tanpa nestapa
segala yang dirasa hanyalah dia
hati kan memuja hanya padanya
ketika cinta memanggil gemetar tubuhku
Ketika cinta memanggil hangatnya nafasku
Ketika cinta memanggil menderu sang rindu
Ketika cinta memanggil...
Rindu..rindu..rindu
kalbu memanggil manggil namamu
Seperti terbang dilangit Mu
Tenggelam dilautan cinta Mu