Aku dan suamiku bertemu di saat kami menjadi mahasiswa disalah satu universitas daerah di jawa timur.
Cinta yg mengikat kami tidak butuh waktu yang lama untuk saling mengenal atau saling mengerti satu sama lain. Aku melihatnya sebagai sosok yang santun dan sangat sopan. Walaupun dia bukan tipe yang serius, tapi dia berani menerima tantangan orang tuaku untuk meresmikan hubungan dalam ikatan pernikahan.
4 bulan menjalani masa pacaran tidaklah menjadikan keraguan kami melebihi niat kami untuk serius. Singkat kata kami menikah disaat usia kami baru 22 tahun,saat masih aktif sebagai mahasiswa semester 5.
Bisa dikatakan modal kami dalam berumah tangga adalah modal dengkul, karena waktu itu suamiku hanyalah guru honorer di salah satu sekolah dasar negeri dikampung kerabat kami. Aku adalah tipikal wanita yang sederhana dalam segala hal, sedangkan suamiku tipikal lelaki borjuis dan perfeksionis.
Aku yang peka ingin pengertian dalam segala hal, dan suami yang komunikatif ingin apapun diomongin. Istilah aku pribadi yang dalam bahasa jawa aku menyebutnya 'rumongso' sedangkan suami yang cuek menunggu instruksi atau omongan agar ia tau apa yang harus dikerjakan.
Mungkin banyak pasangan mengalami yang namanya perbedaan, tetapi perbedaan aku dan suami itu ibaratnya adalah kebalikan, kadang aku yang ngalah agar berdamai, tapi tak jarang dia yang mengibarkan bendera perdamaian. Satu hal yang selalu aku rindukan adalah dia selalu bisa membuat aku tertawa, jadi bagaimana mungkin aku bisa marah walaupun aku pemarah jika dia adalah alasanku tertawa...?
Sifatku yang serius dan pemikir satu atap dengan lelaki yang selalu menganggap apapun sebagai lelucon. Dia menganggap aku sebagai wanita pemarah, sedangkan aku merasa kalau aku punya alasan untuk marah. Aku yang penuh perhatian harus menghadapi lelaki cuek, seperti tidak punya hati sebagai sumiku. Selera dan prinsip kami berdua pun tidak pernah satu, selalu berbeda.
Kadang kami sama sama jenuh dengan perbedaan itu, tapi entah mengapa kami bisa tetap bersama hingga saat ini.
11 tahun pernikahan dengan banyak percekcokan, pertengkaran, perselisihan, perdebatan, dan macam macamnya.
Satu hal yang selalu kami miliki, yaitu ndableg. Setelah berdebat sengitpun kami bersikap 'ya sudahlah' ... Kita suami istri...
Kami tidak pandai dalam mendeskripsikan makna CINTA. Tapi kami belajar untuk mencintai dan dicintai dalam setia dan ikatan sah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar