Kamis, 23 Februari 2017

TENTANG CINTA

Ada pepatah mengatakan "cinta itu buta". Walaupun cuma satu kalimat peribahasa yang sederhana, tapi pembahasan dan perbincangan tak pernah habis karenanya. Karena cinta itu buta maka seperti apapun kondisi yang dicinta, maka tak akan menjadikannya masalah. Karena cinta itu buta maka seberat apapun jalannya maka akan dilalui untuknya. Entah itu terbentur restu dan dukungan, terkendala status sang tercinta, terhalang perbedaan dan budaya atau status sosial dan lain sebagainya.




Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya mengatakan cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut.



Cinta tak memandang jauh ataupun dekat, cinta tak terbatas oleh ruang maupun waktu, cinta mampu melewati berbagai macam badai, juga mampu menembus batas samudera dan benua. Cinta tetaplah cinta walaupun cinta tidak tinggal di atap yang sama. 



Cinta merupakan perasaan suka terhadap sesuatu, entah itu objek nyata maupun abstrak. Kehadiran cinta akan membuat 'rasa' yang ditimbulkan menjadi berbeda, indah, syahdu, sekaligus duka. Duka apabila cinta tidak bisa bertemu cinta dan cinta yang dirasa bertepuk sebelah tangan atau tidak terungkapkan (dalam hati saja). Syahdu bila dalam cinta terpaut rindu, indah bila cinta bisa bertemu dalam satu memori yang menyatukan kerinduan itu.

Cinta seringkali menjadi alasan penyatuan hubungan sekaligus pemutusan suatu hubungan. Hubungan yang begitu baik dan lekat akan menjadi retak akibat konflik yang timbul karena cinta, tapi tak sedikit hubungan terjalin akibat reaksi dari cinta. Seringkali cinta menjadi alasan dari begitu banyak reaksi buruk yang terjadi di dunia ini. Penghianatan misalnya, karena memang sudah kodrat manusia tak bisa lepas dari nafsu dan emosi. Tapi jika fitrah cinta itu terjaga maka cinta yang besar akan lebih agung berdiri diatas nafsu dan mengalahkan nafsu itu sendiri. Dan jikalau cinta tidak bisa bertemu disatu titik kebahagiaan, maka ada balasan hakiki diakhir tujuan manusia nanti yaitu syurga yang hakiki. Cinta yang lebih besar dari nafsu akan bertumpu pada pemilik cinta itu sendiri, sang maha cinta yaitu Allah SWT. 




Budayawan soejiwo tedjo pernah berkata bahwa 'mencintai adalah takdir' karena kita tidak bisa merencanakan akan mencintai siapa dalam hidup kita. Beda dengan menikah, ia berkata bahwa 'menikah itu nasib' karena kita bisa menyetting sendiri mau menikah dengan siapa atau bahkan tidak menikah seumur hidup kita. 

Cinta sesungguhnya bertumpu pada Allah sang maha cinta. Kukuhkan cinta pada Nya sehingga cinta pada yang lain akan tergenggam ditangan dan tidak menguasai logika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar